Tampilkan postingan dengan label sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sukses. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Mei 2017

Lucky,si pengusaha sukses pembuat jam dari kayu

Lucky, Pengusaha Sukses Jam Tangan Dari Kayu – Pendidikan yang tinggi tidak menjamin kesuksesan. Kadangkala orang yang tidak memiliki pendidikan tinggi dapat sukses dalam kehidupan. Karena yang penting adalah sikap mau belajar, bekerja keras, kreatif, fokus dan ulet. Hal itu pula yang dialami oleh pria bernama lengkap Lucky Danna Aria yang kini menjadi pengusaha sukses di bidang pembuatan jam tangan dari kayu.

Lucky, Pengusaha Sukses Jam Tangan Dari Kayu (http://www.uniqpost.com)
Pria yang selalu berpenampilan rapi ini sebagai perintis dalam membuat jam tangan dari bahan kayu. Ia mampu melihat setiap peluang usaha yang ada dan gigih dalam memperjuangkan usahanya. Sehingga ia sukses dalam bisnisnya tersebut. Dimana setiap bulan, ia mampu menjual sampai 500 jam tangan kayunya.
Jika ditilik ke belakang, sebelum memulai usaha jam tangan kayu merek Matoa, pria yang murah senyum ini merupakan seorang karyawan swasta. Lulusan SMAN 2 Bandung ini telah menjalani berbagai pekerjaan di sejumlah perusahaan. Namun, ia lebih banyak ditempatkan sebagai marketing. Jabatan terakhir yang disandangnya adalah Head of Marketing Communication di sebuah perusahaan kue. Sehingga ia sangat mengetahui betul ilmu tentang pemasaran.
Lucky, Pengusaha Sukses Jam Tangan Dari Kayu
Selepas bekerja di sana, Lucky berwirausaha membuat jam tangan kayu. Produknya laris manis dibeli anak-anak muda di tanah air. Bahkan, jam tangannya telah masuk ke pasar negara Jepang. Strategi pemasaran jam tangan kayunya menggunakan metoda getok tular dimana sebanyak mungkin harus dibicarakan banyak orang. Ia pun menggunakan media sosial dan situs untuk memperkenalkan produknya seperti Twitter dan Instagram. Selain itu, Lucky juga berniat membuat produk lainnya dari bahan kayu seperti speaker, dasi kupu-kupu hingga ke produk furniture.
Ternyata pria yang ramah ini memiliki latar belakang pendidikan yang tidak begitu tinggi. Dimana ia sering berpindah-pindah sekolah hingga tak mendapat gelar sarjana. Namun, pria yang berkulit putih ini menyadari pentingnya pendidikan dalam kehidupan seseorang. Menurutnya, memperoleh ilmu bukan hanya di bangku sekolah tapi bisa di dapat dari pengalaman dan orang lain. Yang penting mau belajar.
Sementara itu, alasan Lucky memulai usaha jam tangan kayu berawal dari tantangan mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal yang menantang pengusaha muda Indonesia untuk membuat produk dalam negeri yang berkelas internasional seperti jam tangan dari bahan baku kayu. Menurut Dino Patti Djalal, jam tangan dari bahan baku kayu akan laris manis di pasar dalam negeri dan internasional disebabkan orisinalitas unik, alami dan beda. Kebetulan Lucky mempunyai jam tangan kayu yang dibelinya dari Amerika Serikat. Sehingga ia termotivasi membuat jam serupa.
Demikianlah yang bisa penulis sampaikan mengenai Lucky, Pengusaha Sukses Jam Tangan Dari Kayu. Mudah-mudahan bermanfaat bagi para pembaca dalam menjalankan bisnisnya.

kisah sukses pengrajin bahan keras minuatur

GIGIH, Iwan Herawan, 41, pemilik Handycraft Karya Cipta, menunjukkan produk kerajinan miniatur binatang. Masa kecilnya habis untuk berdagang asongan di objek wisata Tangkubanparahu. Kepintarannya membaca pasar mengantar Iwan Herawan,41,sukses sebagai pengusaha miniatur binatang.

Cerita keberhasilan pengusaha muda kelahiran Bandung, 4 Desember 1969 ini tidak bisa lepas dari keberadaan Tangkubanparahu di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan Kabupaten Subang. Sedari SMP dia sudah memberanikan diri berjualan, khususnya pada hari-hari libur sekolah. Atau ketika sekolah siang, dia terlebih dahulu berjualan di pagi harinya.

Begitu pun sebaliknya, ketika sekolah pagi maka sore harinya digunakan untuk berjualan. Walaupun harus kehilangan waktu bermain yang lumrah dirasakan anak-anak seangkatannya, Iwan kecil merasa senang menjalani pekerjaannya. Hal itu terpaksa dia lakukan karena ekonomi keluarga yang pas-pasan. Tapi siapa sangka, dari jualan asongan itulah cikal bakal dia menjadi pengusaha sukses yang bisa mempekerjakan 20 karyawan dengan omzet usaha puluhan hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Pelajaran hidup dan kepintarannya membaca situasi mengantarnya merengkuh cita-cita sebagai pengusaha. Dari seorang pedagang asongan, kini telah memiliki shoowroom di Tangkubanparahu tempat memajangkan lebih dari 50 item berbagai produk miniatur binatang hasil kreasinya. Iwan menuturkan, usahanya mulai dirintis pada 1990 dengan modal alakadarnya, sekira Rp300 ribu hasil usaha berdagang. Modal itu dia belanjakan perkakas seperti solder, kayu, dan ampelas.

Saat itu dia tidak punya pilihan selain membuka usaha sendiri karena keinginannya untuk kuliah tidak kesampaian. Dia sempat mengecap bangku kuliah beberapa bulan di Universitas Padjadjaran namun terpaksa ditinggalkan karena tidak ada biaya. Ide awal membuat miniatur binatang kayu didapatkannya dari sang paman. Ketika itu Iwan disarankan mengolah kayu lame menjadi benda bernilai jual tinggi. Dengan kreativitas dan imajinasi, ditunjang darah seni, Iwan pun bisa menyulap kayu lame menjadi miniatur binatang yang bernilai seni tinggi.

“Saya percaya, ketika niatnya baik, dijalankan dengan baik, maka hasilnya pun pasti baik. Terbukti, ketika ada keinginan untuk membuat miniatur binatang maka saya selalu diberi jalan kendati saya tidak pernah belajar seni ukir sebelumnya,” kata ayah dua anak bernama Tedy Heriyadi, 18, dan Chandra Kuswendi,11. Seiring perjalanan waktu, usahanya semakin berkembang. Dia pun mulai mempekerjakan dua orang karyawan yang merupakan tetangganya.

Usahanya yang berlokasi di Kampung Pondok, RT 2/3, Pasar Ahad Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), diberi nama Handycraft Karya Cipta. Kian lama produknya banyak diminati pasar lokal ataupun mancanegara seperti dari Iran, Singapura, Jepang, China, Korea, dan Yunani. Bahkan, dalam sebulan dia bisa mengirimkan 30 ribu miniatur ke luar negeri. Mau tak mau dia pun terus menambah karyawannya hingga sekarang menjadi 20 orang dan bisa bertambah jika pesanan barang membludak.

Dia merasa bangga dapat menjadi orang yang mampu membantu pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran. Meski kini sudah meraup sukses, bukan berarti semuanya berjalan tanpa usaha keras. Tidak jarang ada kendala yang mengiringi perjalanan usahanya selama hampir 20 tahun. Iwan sadar, hidup ini ibarat roda, kadang di atas tapi kadang pula di bawah. Begitu pun dengan usahanya, ada saatnya banyak pesanan tapi ada juga musim paceklik (sepi pesanan).

Menurut dia, itu adalah sebuah risiko dan konsekuensi menjadi seorang entrepreneur agar bisa mengolah kesulitan menjadi kemudahan. Dia berusaha tidak pernah memperlihatkan raut wajah panik atau putus asa manakala pemasukan usahanya sedang berkurang. Dengan begitu, berarti dia mengangkat motivasi karyawannya agar tidak pernah malas untuk bekerja.

“Menjadi pengusaha artinya bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup para karyawan, dan hal itu yang selalu saya jaga agar bagaimana usaha bisa maju sehingga dampaknya bisa menyejahterakan seluruh karyawan,” tegasnya. Kendala lain yang dihadapi suami Neneng Hermawati, 40, ini terkait dengan promosi dan pemasaran. Karena itu, dia selalu berharap kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan para penggerak usaha kecil dan menengah. Kalaupun tidak bisa memberikan bantuan materi, paling tidak informasi agenda pameran-pameran.

Ditanya tentang falsafah hidupnya hingga bisa sukses, Iwan menjawab: kegigihan dan kerja keras. Dia yakin, setiap orang punya potensi dan tergantung dari masing-masing individu menggalinya untuk menjadikan modal berharga guna meraih hidup yang jauh lebih baik. Dia tidak khawatir bahkan mendorong agar karyawannya bisa membuka usahanya secara mandiri.

Hal itu menjadi kebanggaan karena pertanda dia telah berhasil menularkan keahlian dan jiwa entreprenuer kepada orang lain.Tak pernah terbesit akan merasa tersaingi sebab dia pun akan terus belajar mengembangkan kemampuannya untuk menciptakan produk-produk yang lebih inovatif lagi.


Sumber : wordpress.com